Rabu, 08 Mei 2013

puisi karya dia

Sering aku berpikir bahwa aku itu bodoh.
Sering aku berpikir bahwa aku itu bukan siapa siapa
Sering aku merasa bahwa aku itu sendiri.
Sering aku merasa bahwa aku itu tak berarti.
seakan tak mau aku bermimpi lagi.
Seakan tak mauu aku bergerak lagi
Depan ku gelap belakangku gelap
Atasku redup bawahku redup
Ini bukan puisi berputus asa
Ini bukan puisi untuk keluhkan asa
Ini bukan jeritan ketidakadilan
Ini bukan raungan penderitaa
Justru ini yang membuat aku kuat
Yang membuat aku berusaha
Untuk bisa menjadi pendamping nyata
Dalam hidupmu.
                                                                                   
-Bromfenol Jingga Sulfida-

Sabtu, 27 April 2013

apakah kamu pantas diperjuangkan sejauh ini



apa yang harus aku jaga dan aku perjuangkan jika selama ini kamu hanya bisa mengabaikan?
Bagaimana aku menjelaskan banyak hal yang mungkin saja tidak kamu rasakan? Tidak kamu mengerti?
Aku sayangi kamu dengan tulus. Hanya kamu yang aku sayang.
Aku bukan bonekamu sayang, yang bisa seenaknya kamu jadikan peran dalam aktingmu.
Aku bukan layang-layangmu sayang, yang biisa kau mainkan tarik ulur sesuka hatimu.
Mana katamu yang inginkan ku menjadi ibu dari anak-anakmu kelak?

Jumat, 29 Maret 2013

fruktosa dan mannitol


Glukosa dapat diperoleh dari hidrolisis pati atau selulosa. Glukosa dapat  dikonversi menjadi fruktosa melalui suatu proses yang disebut dengan proses isomerasi. Reaksi berlangsung pada fasa cair dengan pelarut air. enzim yang digunakan adalah enzim glukosa isomerase. Enzim ini mengubah D-glukosa menjadi D-fruktosa.
Persamaan reaksi isomerasi glukosa-fruktosa tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
·      FRUKTOSA
Fruktosa merupakan isomer dari glukosa, keduanya memiliki rumus molekul yang sama (C6H12O6) namun memiliki struktur yang berbeda. Tingkat kemanisan glukosa ini lebih rendah jika dibandingkan dengan fruktosa. Oleh karena itu, manusia berusaha melakukan konversi glukosa yang tingkat kemanisannya 100 menjadi fruktosa yang tingkat kemanisannya 170. Fruktosa memiliki tingkat kemanisan yang tinggi. Fruktosa banyak digunakan juga sebagai penambah rasa.

Rabu, 20 Maret 2013

cinta lama part II (end)


baca cerita sebelumnya disini :)

“stop!” ucapku dengan nada keras.
“siapa sih kamu?” lanjutku yang semakin kesal dengan segala teka teki nya. ku tatap kedua matanya dengan lekat. Ada kehangatan yang aku rasakan disana.
Dia terdiam. Tetap menatapku dalam dalam. Ada nada kesedihan yang ku temukan disana. Disudut mata nya yang dibatasi oleh lensa kaca mata nya.
“aku.. aku.. seseorang yang menghilang dari hidupmu 7 tahun yang lalu” ucapnya dengan mata berbinar tetapi penuh arti meyakinkan. sosoknya tetap menatapku lebih lekat. Aku masih tetap tak mengerti. Lebih tepatnya aku tak menyangka dengan apa yang ia katakan.
“aku Wisnu, Ras. Apa kamu sudah tidak mengenalku?” tegasnya dengan melepaskan kaca mata yang melekat di wajahnya.
“wisnu? Bramantya Wisnu Prayoga” tanyaku dengan antusias
“bahkan kamu masih inget nama ku dengan lengkap” tangkas nya dengan senyum yang mengalun di bibirnya. Sangat tulus.
“kamu beneran wisnu? Wisnu yang 7 tahun lalu pindah sekolah ke Bali?” tanyaku semakin tak percaya dengan apa yang ditakdirkan Tuhan detik ini. Aku menemukan nya. aku bertemu dengan nya lagi setelah ruang rindu yang mengeropos selama itu.
“ iya benar. Aku adalah cinta pertama mu yang dulu kau tuliskan surat cinta ini” ucapnya sembari mengeluarkan secarik kertas yang sudah lusuh dari dalam tasnya. Lalu tangan nya menyodorkan kertas itu kepadaku.
“apa ini?”
“ini surat yang 7 tahun lalu kamu tulis untuk ku. Masih ingat? Surat cinta tanpa amplop” dia tertawa ringan menatap ekspresi ku yang mulai tak karuan.
“oh, iya aku masih ingat” aku tersenyum cemas. Ku buka lipatan kertas berwarna putih itu, kertas dari sobekan sebuah buku merk ‘kiky’. Aku masih ingat, itu buku matematika dulu, ketika aku kelas 1 smp. Tulisan ku yang dulu mulai terlihat dan ku baca surat itu. Tulisan ku dulu memang jelek --besar besar tak beraturan. Aku mulai tertawa kecil membaca tulisan lugu tentang cinta dari bocah usia 13 tahun itu.

Rabu, 27 Februari 2013

coretan kepada kaum "Adam"



Adam.....
Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu.
Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi tidak heranlah jika perjalanan hidupku senantiasa inginkan bimbingan darimu, senantiasa aka tergelincir dari landasan,
Karena aku buruan syeitan.
Adam...
Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu di akhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusanNya. Jikabilangan kaummu melebihi kaumku niscaya merahlah dunia karena darah manusia, kacau-balaulah suasana, Adam sama Adam bermusuhan karena Hawa. Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil sehingga pada zaman cucu-cicitnya. Pun jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristeri lebih dari satu tapi tidak lebih dari empat pada satu waktu.
Adam...
 Bukan karena banyaknya isterimu yang membimbangkan aku. Bukan karena sedikitnya bilanganmu yang memusingkan aku. Tapi... aku risau, gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Aku sejak dulu sudah tahu bahwa aku mesti tunduk ketika menjadi isterimu. Namun.. terasa berat pula untukku meyatakan isi perkara.
Adam...
 Aku tahu bahwa dalam Al- Quran ada ayat yang menyatakan kaum lelaki adalah menguasai terhadap kaum wanita. Kau diberi amanah untuk mendidik aku, kau diberi tanggungjawab untuk menjaga aku, memerhatikan dan mengawasi aku agar senantiasa didalam ridha Allah. Tapi Adam, nyata dan rata-rata apa yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah ramai mendurhakaimu. Ramai yang telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan. Asalnya Allah menghendaki aku tinggal tetap dirumah. Di jalan-jalan, di pasar- pasar, di bandar bukan tempatku. Jika terpaksa aku keluar dari rumah seluruh tubuhku mesti ditutup dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tapi.. realitanya kini, Hawa telah lebih dari sepatutnya. Adam... Mengapa kau biarkan aku begini? Aku jadi ibu, aku jadi guru, itu sudah tentu katamu. Aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tapi sekarang diwaktu yang sama, aku maju menguruskan hal negara, aku ke hutan memikul senjata. Padahal, kau duduk saja. Ada diantara kau yang menganggur tiada kerja. Apakah kau sekarang tidak lagi seperti dulu? Apakah sudah hilang kasih sucimu terhadapku?
Adam...
Marahkah kau jika kukatakan andainya Hawa tergelincir, maka Adam yang patut tanggung! Kenapa..? Mengapa begitu ADAM ?? Ya! Ramai orang berkata jika anak jahat ibu-bapak tak pandai mendidik, jika murid bodoh, guru yang tidak pandai mengajar! Adam kau selalu berkata, Hawa memang keras, tak mau dengar kata, tak mudah diberi nasihat, kepala batu, pada hematku yang dhaif ini Adam, seharusnya kau tanya dirimu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti didikan Nabi Muhammad SAW terhadap isteri-isterinya? Adakah Adam melayani Hawa sama seperti psikologi Muhammad terhadap mereka? Adakah akhlak Adam- Adam boleh dijadikan contoh terhadap kaum Hawa?
Adam...
 Kau sebenarnya imam dan aku adalah makmummu, aku adalah pengikut-pengikutmu karena kau adalah ketua. Jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku. Kau punya kelebihan akal manakala aku kelebihan nafsu. Akalmu sembilan, nafsumu satu.
Aku...akalku satu nafsuku beribu!
Adam....
pimpinlah tanganku, karena aku sering lupa, lalai dan alpa, sering aku tergelincir didorong oleh nafsu2ku. Bimbinglah aku untuk menyelami kalimat Allah, perdengarkanlah aku kalimat syahdu dari Tuhanmu agar menerangi hidupku. Tiuplah ruh jihad ke dalam dadaku agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah.
Adam...
Andainya kau masih lalai dan alpa dengan ulahmu sendiri, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah, dunia ini akan hancur bila kaumku yang akan memerintah. Malulah engkau Adam, malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhanmu yang engkau agungkan itu...

coretan dan fiksi



Di pojok kamar, di sudut sepi

Perlahan ku buka bingkai kepingan pilu
yang sudah lama tak ku lihat.
Perih, pedih, luka, sakit.
beginilah pilu yang aku simpan terlalu lama.
Entah sampai kapan aku harus menahan tangis.
Yang menumpuk sudah terlalu jauh.
Tertawa? Ya. Aku bisa. Tawa itu milikku.
Orang lain masih bisa melihatnya.
Oranglain melihat aku tegar.
Melihat aku kuat. Tapi apa adanya aku?
Biar.. biar.. aku egois.
Asal tidak terlihat lemah di mata mereka.
Sampai aku lelah. Sampai aku sadar.
Aku tidak seperti mereka.
Cukup !
Aku capek harus berpura-pura tegar.
Berpura-pura tidak ada duri yang diam diam menghujam ruh ini