Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2013

menunggumu


Malam ini begitu dingin. Angin malam membisikan kerinduan ku kepadamu. iya sudah dua tahun tepatnya semenjak perpisahan kita saat itu. Sebenarnya kita tidak benar-benar memutuskan hubungan. Hanya saja aku dan kamu tidak saling berkomunikasi lagi. Kamu yang memilih untuk melanjutkan sekolah tentara. Saat itu aku mengerti dan aku yakin suatu saat kamu akan menjadi orang yang besar. Bukankah itu cita-citamu dari kecil? aku hanya bisa menunggu. menunggumu pulang seusai kegiatan mu selesai. 

Aku menutup jendela kamarku. Wajahku masih terasa dingin. Aku bergegas untuk mengambil wudhu. Aku tak pernah melewatkan doa untuk kamu, untuk kita. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku kutip namamu dalam doaku. Seseorang dengan beratus-ratus kilometer jauhnya. Selama dua tahun ini aku menjaga hatiku, meskipun kita “tidak pernah berkomunikasi” selama ini. Kangen. Batinku membuncah rindu luar biasa. Merasakan kenangan kenangan itu hadir begitu membuatku meneteskan airmata. AKU MERINDUKAN KAMU!

Minggu, 26 Mei 2013

sampai kapan aku berjuang sendirian


“kadang lebih baik menjauhi seseorang bukan karena berhenti mencinta, tapi karena harus melindungi diri agar tak terus terluka”
“kadang meski masih ada cinta, dan tak ada yang berubah dengan rasa, kamu tak ingin kembali padanya, karena takut terluka tuk alasan yang sama”

Aku kira, aku bisa mengatasi segalanya. Aku bisa melupakan segala macam tentangmu. Ku pikir aku bisa mencari pengganti mu. Aku sering berfikir untuk mematikan segala hal tentang perasaan ini. hanya saja aku takut dikecewakan terlalu dalam. Beberapa kali logika ku mengatakan itu tapi hati memang tidak bisa berbohong. Kamu terlanjur aku cintai terlalu dalam dan sangat dalam. Kamu sudah menjadi bagian dari hari-hariku. Setiap hari aku selalu melihatmu. Sungguh, aku tidak pernah mengerti apa yang ada dalam perasaanmu. Perubahan yang selalu kamu tampilkan membuatku sulit menerima nya.

Selama rentetan bulan kebersamaan kita aku tak tahu apakah aku dan kamu bisa menjalani nya menjadi rentetan tahun? Apakah kita akan selalu menemukan titik temu, jika aku selalu saja bertanya tanya apakah perasaanmu sedalam seperti yang aku harapkan? Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan sikap jelekmu. Kadang, aku berfikir tak ada yang bisa mencintaimu dengan sangat dan menerima kekuranganmu dengan sabar, selain aku. Mungkin, kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Kebersamaan kita. Menyakitkan bukan jika kamu masih mengharapkan keberadaan oranglain dalam hari-harimu dan tatapan matamu? Mungkin dia bisa selalu membuatmu nyaman dan damai daripada aku yang bersamamu. Sungguh ini menyakitkan. Apakah aku bukanlah sosok yang kau inginkan? Yang kau harapkan?

Rabu, 27 Februari 2013

coretan dan fiksi



Di pojok kamar, di sudut sepi

Perlahan ku buka bingkai kepingan pilu
yang sudah lama tak ku lihat.
Perih, pedih, luka, sakit.
beginilah pilu yang aku simpan terlalu lama.
Entah sampai kapan aku harus menahan tangis.
Yang menumpuk sudah terlalu jauh.
Tertawa? Ya. Aku bisa. Tawa itu milikku.
Orang lain masih bisa melihatnya.
Oranglain melihat aku tegar.
Melihat aku kuat. Tapi apa adanya aku?
Biar.. biar.. aku egois.
Asal tidak terlihat lemah di mata mereka.
Sampai aku lelah. Sampai aku sadar.
Aku tidak seperti mereka.
Cukup !
Aku capek harus berpura-pura tegar.
Berpura-pura tidak ada duri yang diam diam menghujam ruh ini